Penat dengan Tugas Kuliah, Anak Rantau Jogja Minggat ke Gunung Andong


Ini bukan seberapa jauh kami melangkah tapi seberapa bermakna langkah kaki ini, karena kalau ngomongin masalah "seberapa jauh" langkah kaki, kami sudah sangat jauh melangkah.

Saya "wong kito galo" palembang, berteman dengan wanita aceh, dan wanita NTB. Kami bertemu di kota berhati nyaman, kota yang benar - benar bikin nyaman. Jogja !! Kota dimana kami bisa melihat sebagian kecil bentuk keberagaman Indonesia, kota dimana  orang-orang dari barat sampai timur Indonesia berkumpul di Jogja  istimewa. Mengagumi jogja tidak cukup  ditulis dengan kata-kata, mesti datang, dan rasakan sendiri gimana nyamannnya jogja.

Oke,  langsung ajalah ya, soalnya kalau mau ngomongin jogja bakal gak ada abisnya, jadi ceritanya gini, kami anak - anak rantau penerima beasiswa dari "dad and mom foundation", lembaga keuangan yang dikelolah bapak dan ibu kita masing2 a.k.a dana orang tua😊. Dikirim ke Jogja untuk belajar supaya nantinya jadi wanita, istri dan calon ibu  pinter, yang ngedidik anaknya untuk jadi pinter. 


Hari-hari yang melelahkan dengan deadline tugas kuliah yang "oallaaaahhh" bikin puyeng, kuliah, setelahnya bekerja, timbul rasa penat butuh piknik, butuh maen, butuh eksis, ngehits kayak anak hitss jogja lainnya. 

Di malam yang hening mata menahan kantuk tapi harus tetap fokus ngerjain tugas, tiba - tiba hp bergetar,  pesen WA dr gadis aceh.
"Andong yuk mbk?"  
"Gak bisa besok kan saya nguli" *kuliah nyambi kerja. 
"Kita pergi ba'dah ashar mbk, pagi saya ada kuliah." ujarnya.
"OK ! " 

Endingnya  ba'dah asar kita ketemuan di kopma UNY, berempat, satu temen laki - laki, dan tiga wanita haus piknik". 

Lengkap dengan peralatan perang tanpa tenda, motoran menuju kabupaten Magelang. Kita sampai Magelang, dengan drama pecah ban, jalan yang berliku, tanjakan, tikungan dan penerangan terbatas, tiba di rest area jam 8-an malam, bersih - bersih, ibadah dan curhat - curhatan soal kuliah, drama korea, lagu "asoy geboy", ngelawak gak jelas, dan berujung ngebahas tugas akhir, lalu hening haha, kita  mau piknik, stop ya bahas "TA", ujar perempuan berkarakter gokil, koreaholic asal NTB  ini. 

Kita dr budaya dan karakter berbeda  tp memiliki satu kesamaan, sama-sama menyukai gunung, tiga wanita haus piknik ini pengen banget naik gunung, mumpung di Jogja, mumpung belum dipaksa pulang untuk membangun kampung halaman, dan  mumpung belum nikah*upss. Ayoo naek gunung. Berangkatt Bang..adek perlu piknik bang...brum brumm. Cewek ketje amatiran. Ngakunya anak hits jogja😊

Pendakian andong terletak di dusun sawit, kec ngablak, kab magelang. Gunung Andong  terletak di kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan ketinggian 1726  mdpl, waktu tempuh Sleman ke kabupaten Magelang kira-kira 4 jam-an lebih *diluar waktu normal, karena kecepatan berkendara yang tidak terlalu cepat, dan berapa kali berhenti untuk makan dan sholat.

Kami tiba di rest area jam 8an malem, numpang tidur di rest area, karena gak bawak tenda. Biaya penitipan motor Rp.10.000/motor dan registrasi mendaki kalau gak salah  Rp.10.000/orang*saya lupa maaf.

Wanita haus piknik, puspa nusantara aceh, palembang, dan NTB. Gunung andong walaupun  gunung kecil, tetapi pesonanya bikin kita takjub dan bikin kita terus berucap memuji kebesaran  Sang Maha Pencipta. Bagi 3 cewek amatiran macam kami, Andong menakjubkan, dari atas Andong kita bisa melihat gagahnya Merapi, Merbabu, gunung Sumbing dan Sindoro. Dan dari barat Andong kita dapat melihat gunung Slamet. 

Yang paling menarik dari puncak Andong adalah, adanya warung yang menyediakan wedang anget, mie dan mendoan. Jadi Jangan khawatir kalau lupa bawa bekal, puncak gunung  yang ada warungnya mungkin cuma dapat di temui di Andong kali ya. Monggo uni dan uda yang terinspirasi untuk buka rumah makan padang di puncak andong 😊



Kami mulai mendaki pukul 03.00 subuh WIB, dengan suhu yang lumayan dingin banget dan trek yang untuk sebagian orang mudah, tapi tidak bagi tiga cewek amatiran ini. Trek yang kami lalui sebenarnya tidak terlalu sulit,(* bagi para pendaki profesional) karena sebagian trek berbentuk tangga, dan bebatuan yang telah disusun. Kendalanya saya dan dua temen saya gadis aceh dan  NTB, karena piknik dadakan, ditambah  tidak ada latihan fisik sebelumnya,  berdampak pada daya tahan tubuh kami bertiga, lelah banget rasanya, lalu muncullah drama-drama "udah gak kuat lagi", "pengen turun aja", kapok naek gunung, gak mau lagi naek blablala, dst. Tapi, Alhamdulillah leader, sohib kami yang stok sabarnya banyak banget, terus memotivasi, kasih semangat. Sabarrr banget menghadapi tiga wanita labil dan merepotkan ini. *Maaf yak pak leader. 



Pak leader yang jam terbang dakinya uda kemana-mana, pak  leader yang stok sabarnya banyak banget* Bro ajak kami lagi ya kalau ndaki😊Terus mendorong  kami untuk tetap naik, motivasi dari pak leader bikin kami bertiga terus merambat naik, naik, dan naik, gak terasa uda masuk waktu subuh suara adzan subuh yang samar - samar terdengar menambah motivasi kami untuk terus ke atas. Jangan takut gak ada air, karena terdapat sumber air bersih pada jalur pendakian, kami berhenti sejenak untuk sholat subuh dan melanjutkan langkah ke atas, terus ke atas...ke atas dan alhamdulillah....akhirnya.

Puncak andong yang ramenya kayak pasar. Sampai di puncak,rasa penat, capek hilang sudah, digantikan dengan rasa takjub pada kebesaran Sang Maha Pencipta. Pujiaan terhadap keagungan Sang Pencipta, segala puji bagi Tuhan kami,  MasyaAllah untuk sebagain orang mungkin itu terlalu lebay, tapi untuk tiga perempuan amatiran macam kami, ini sangat menakjubkan. 

Usaha memang gak pernah ngebohongi hasil. Gimana man teman? Mau naik gunung lagi atau kapok gak mau lagi?? MAuuuuuu lagiiiii....nanti setelah ini kita ke prau, merbabu blabalabalaa.....*hadeuh cewek-cewek labil.






"Hidup cuma sekali, berhentilah menanam gusar" pernah baca dari sebuah buku, terkadang ketika kita memilih membuka pintu dan memutuskan melangkah keluar, bersiaplah ada hal - hal "ajaib" yang akan kita temui, yang mengajari kita soal hidup dan kehidupan,  mengenai planet bumi dan mahluk yang ada di dalamnya. Hidup bukanlah sekedar hidup kata orang bijak  " Dont tell me how educated you are, tell me how much you traveled, travel teaches tolerantion". 

Tiga dari 7.6 Miliar  penghuni planet bumi yang menyenangkan. Jadi kita malam tadi naik ke atas sana ya. Dikirim untuk belajar, ndalala malah main ke gunung kamu Nak lah piye djal. 


Lupakan sejenak tesismu guys!!!


Jadi dari sekian banyak tulisan-tulisan di atas, kesimpulannya adalah kami ndaki Andong, karena penat sama tugas kuliah yang "plak ketumplak ketumpleng", dan sedikit jenuh dengan rutinitas *kuliah, organisasi, kerja part time,dll),  nunggu waktu selo rasanya agak mustahil karena libur kuliah masih lama,  perjalanan menyenangkan dengan sohib - sohib yang menyenangkan. Banyak sekali nikmat yang Tuhan kasih kepada kami. Diberi kesempatn belajar di kota budaya, kota berhati nyaman, bertemu dan bersahabat dengan orang-orang  yang pola pikirnya menakjubkan, yang memiliki karakter  sangat ajaib, tiada hari tanpa senyum, dan tawa, jogja...istimewa.

Kalau kamu hanya ingin melihat isi dunia maka bukalah jendela, kalau kamu ingin merasakan dunia bukalah pintu, melangkahlah...merantaulah, rasakan dunia,  jangan hanya baca buku, tapi bepergianlah...ayoo buka pintu kosmu melangkahlah hoho....langkahkan kakimu, resapi perjalananmu, hidup bukan hanya sekadar hidup,berhentilah menanam gusar. 



** pulang dari andong,...




Saya dan gadis aceh, langsung isi perut, pesen geprekan cabe 15, dan Nadhira Nikmatullah aka dira (*nama sahabat saya dari NTB itu, keren kan  namanya, itu nama sesuai akta kelahirannya dan motong sapi, terbang jauh dari lombok bertemu kami yang sama sengkleknya sama dia, sumpah anak satu ini, AJAIB, fans militan  drama korea dan semua yang berbau korea, dan bahkan proposal tugas akhirnya berunsur korea. Setelah gagal dengan ubi cilembunya langsung tepar dan tidur nyaman dikamar kosannya, berniat bahwa besok gak mau masuk kuliah).

Henni wanita aceh (*satu kelas sama dira).kata  Dianti (*anak sulawesi sahabat kami yang sama sengkleknya dengan kami) : mbk ben, gimana andong nya, itu si henni nginep dikosan  abis subuhan tepar lagi dianya, pegel katanya, nyenyak banget tidurnya. Gak usah tanya andong dulu ya di,linu semua di. Cuma pak Rerev Leader kami yg tetep gagah perkasa. 

Ahhh manisnya. Gunung itu adiktif ya, bikin ketagihan, banyak pelajaran dari sebuah gunung. 

* calon guru. 


Cerita kiriman : Benaziria Choiri 


Dikirim untuk belajar, ndalala malah main ke gunung kamu Nak lah piye djal.

1 Response to "Penat dengan Tugas Kuliah, Anak Rantau Jogja Minggat ke Gunung Andong"

  1. Ngebayangin kapan ya bisa naek gunung juga, dari capture nya ini bikin kecolek banget pengen "ngegunung"(bahasaapaini), diatas gunung ada warungnya lagi, wah kece dah.

    "Merayu sang Maha di tiang langit tentu iramanya lebih syahdu ya Ben"

    Uraikan salam pengen kenal Jogja dari diriku Ben, sapa tau kpn2 bisa ngAndong jugak hehe, plus sama bojo kalo bisa #plakkk

    BalasHapus